Senin, 25 Oktober 2021

Bagaimana Cara Memainkan Alat Musik Kolintang?

Minahasa merupakan salah satu kabupaten di provinsi sulawesi utara yang mayoritas masyarakatnya dihuni oleh suku minahasa. Suku minahasa adalah suku yang muncul dari peleburan aneka suku bangsa yang masuk ke sulawesi utara.

Suku minahasa mempunyai kebudayaannya sendiri dimulai dari bahasa, adat istiadat, dan kesenian seperti tari serta alat musik. Salah satu alat musik tradisional suku minahasa sulawesi utara yang sangat terkenal adalah kolintang. Ada suatu cerita rakyat suku minahasa tentang asal-mula ditemukannya alat musik kolintang. Dalam suatu desa di minahasa terbisa seorang gadis yang sangat cantik dan pandai bernyanyi bernama lintang. Suatu hari lintang dilamar oleh makasiga seorang pemuda dan pengukir kayu. Dilansir dari indonesia kaya, lintang menerima lamaran makasiga dengan satu syarat yaitu makasiga harus menemukan alat musik yang bunyinya lebih merdu dari suling emas.

Makasiga sukses menemukan alat musik tersebut yaitu cikal bal dari kolintang. Kolintang atau kolintang adalah alat musik pukul khas suku minahasa yang terbuat dari kayu. Raditya wahyu indariayana dalam skripsi berjudul strategi pembelajaran musik kolintang bagi lansia di desa nyemoh kecamatan bringin kabupaten semarang (2013), menyebutkan bahwa nama kolintang berasal dari bunyi tong (nada rendah), ting )nada tinggi), dan tang (nada tengah) yang dihasilkan instrument musik tersebut. Sehingga orang-orang minahasa memakai kata tong tong tang untuk menyebut alat musik tersebut, dari situlah lahir nama kolintang.


Kolintang terdiri dari beberapa potongan kayu yang ringan (kayu bandaran, kayu kaketika inik, dan kayu telur). Kayu-kayu tersebut disusun berdasarkan panjangnya di atas sebuah rak kayu. Kolintang dimainkan dengan cara dipukul oleh pemukul kayu dan akan menghasilkan bunyi-bunyi yang merdu. Kolintang umumnya tidak dimainkan sendiri melainkan secara bersamaan.

Dominica diniafiat dan ambrosius m. Loho dalam jurnal berjudul nilai filosofis-kulturan musik kolintang (2020), menyebutkan bahwa kolintang yang dimainkan bersama-sama dan menghasilkan nada harmonis mempunyai nilai filosofis budaya kehidupan berkelompok suku minahasa yang diperkuat oleh gotong-royong, kekeluargaan, dan keselarasan untuk hidup bersama. 

Alat musik kolintang dalam budaya suku minahasa digunakan dalam ritual dan upacara adat yang mempunyai tujuan pada pemujaan leluhur minahasa. Eksistensi kolintang menghilang kurang lebih selagi seratus tahun ketika agama kristen masuk ke daerah minahasa dan dihidupkan kembali sesudah perang dunia ke-2 oleh seorang tokoh bernama nelwan katuuk.